Minggu, 04 Juni 2017

Anak dan Handphone

Bismillahirrohmannirrohim..
(Source from google)

Tantangan 10 hari di hari yg ke-4 ini tentang kakak yang suka pinjam handphone ibu. Di HP ibu memang ga ada aplikasi games atau aplikasi buat anak2 jd kakak memang pinjam hp bukan utk main games. Lha terus utk apa? Kakak pinjam hp ibu cuma utk liat video dia sendiri atau video keluarga. Ibu memang seneng bikin dokumentasi video di hp utk kegiatan kakak di rumah atau kegiatan keluarga. Sekali dua kali masih oke asal kakak memang sdh selesai dgn kegiatannya. Tapi akhir-akhir ini frekuensi minta pinjam hp malah semakin sering dan semakin lama padahal yg dilihat cuma muter-muter video aja dan yang bikin geregetan semakin susah juga utk berentinya. Beberapa kali kejadian ini membuat ibu emosi. Lagi-lagi intonasi suara jadi tinggi dan kakak juga sering marah-marah ga karuan. Inginnya ibu, ibu dan ayah punya jam khusus utk gadget biar jd contoh jg buat kakak kpn boleh liat hp kapan tidak boleh dan berapa lama waktunya. Jadi ketika di waktu no gadget, ibu pernah bilang "ini bukan waktunya pegang hp. Ibu juga ga pegang hp". Nah, Untuk ibu hal ini bisa dikondisikan. Tapi tidak utk ayah. Terkadang ketika ayah sudah di rumah masih saja hp nya dipandangi setelah bunyi tang ting tung. Iya bukan utk main games tapi karena selalu ada informasi mengenai pekerjaannya. Lalu kakak bilang, "itu ayah pegang hp" sambil terus merengek-rengek 😕
Bagaimana rasanya? Pengen deh bilangin pake suara keras, "itu kan beda, ayah itu lg ada kerjaan" tapi ya ga efektif jg. Kakak ga mau tau lah itu kerjaan apa bukan yg jelas mau nya dia pegang hp 😢

Sampai akhirnya ibu cb ngobrol baik2 efek2 negatif liat hp lama2. Kakak mau coba utk ngerti dan mau dikurangi utk waktu gadget nya yg hanya sekitar 5 menit per hari. Dan walaupun kadang habis pinjam punya ibu kakak masih jg pinjam punya ayah.

Proses ini ga mudah. Ibu msh terus berusaha utk tetap konsisten bicara baik-baik sama kakak supaya kakak ngerti tanpa harus emosi.

Semoga Allah memudahkannya..

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
#ceritabundarafif

Sabtu, 03 Juni 2017

Tak Selamanya Bisa Reka Ulang

Bismillahirrohmannirrohim..

Tantangan hari ketiga tentang komunikasi produktif kali ini benar-benar tantangan. Di cerita sebelumnya, ibu pernah mengatakan kalau kakak itu anak nya suka keukeuh kalo mau apa-apa harus dilakukan saat itu juga. Seperti kejadian malam tadi. Sekitar jam setengah 9 malam kakak sudah minta utk masuk kamar dan baca do'a. Sudah jadi kebiasaan kakak semenjak bayi kalau sebelum tidur malam harus dibacakan beberapa surat pendek, ayat kursi, 3 ayat terakhir Albaqarah dan beberapa doa-doa yg diakhiri dgn do'a mau tidur lalu dilanjutkan dgn menyetel murottal di boneka hafidz nya sambil juga dipeluk atau diusap2 oleh ibu. Kegiatan sebelum tidur ini dilakukan sekitar 30 menit sampai kakak benar-benar tidur. Dan sekitar jam 9 malam, ibu keluar kamar karena mengira kakak sudah tidur dan ibu jg melihat ayah baru saja selesai memasukkan motor ke rumah dan mengunci pintu rumah. Mendengar suara pintu depan terkunci lalu melihat motor sudah masuk rumah, tiba2 kakak menangis dan berteriak "masukin motornya sama kakak!!", ternyata kakak belum tidur. Ya memang biasanya ayah suka memasukkan motor dr halaman dpn rumah ke dalam rumah dibawah jam 8 sambil kakak naik diatas motor dan jika motor sdh terlanjur dimasukkan tanpa kakak, maka akan dilakukan "reka ulang", ya ayah suka mengalah, mengeluarkan lagi motor nya dan memasukkannya lagi bersama dengan kakak. Hal ini bukan saja terjadi pada kasus motor, tapi juga hal lain. Tapi dari beberapa obrolan ibu dan ayah, menuruti keinginan kakak utk melakukan atau mengulang hal2 yang sebenarnya sudah terjadi dan tidak perlu dilakukan lagi bukanlah hal yang tepat. Kakak perlu memahami ada hal2 yg sudah terjadi yg tidak bisa diulang dan harus diterima dengan lapang dada walaupun itu adalah hal yg sepele.

Kembali pada kejadian tadi malam. Ibu dan ayah sepakat utk tidak mengalah (mengeluarkan motor lagi lalu memasukkannya lagi bersama dgn kakak). Aap yg terjadi? Kakak menangis kencang sekali sambil berteriak meminta utk mengulang memasukkan motor. Ibu sempat akan emosi, tapi ibu coba tarik nafas dalam, diam sebentar didalam kamar, berusaha utk tidak bicara dgn nada tinggi. Ayah yg menggendong kakak jg sempat sedikit emosi mendengar tangisan dan teriakan kakak. Akhirnya ibu coba gendong kakak, memberinya air putih utk minum agar kakak merasa sedikit tenang. Setelah beberapa saat ibu mulai membuka obrolan dengan kakak.
Ibu : "kakak mau ibu peluk"
Kakak : (mengangguk)
Ibu peluk kakak sampai kakak merasa sedikit tenang walopun masih terisak.
Ibu : "kakak sedih ya motornya udah dimasukkin?"
Kakak : "iya.. Kakak mau masukin motor" (masih sambil terisak)
Ibu : "tadi, ayah kira kakak sudah tidur jadi motornya ayah yg masukin."
Kakak : "kan mau keluarin lagi, masukin motornya sama kakak" (makin terisak)
Ibu : "kak, motornya kan sekarang sudah masuk, kakak bisa ngeluarin motor besok pagi & masukin nya lagi malem sebelum kakak tidur"
Kakak : "kakak mau sekarang" (nangis lagi)
Ibu : "kalo dikeluarin lagi trus dimasukin lagi kan kasian ayah kak, nanti ayah cape. Kakak kan sayang ayah"
Kakak : (diam sambil masih agak terisak)
Ibu : "oke gini deh kak, ibu sama ayah janji utk nanti lagi kalau mau masukin atau ngeluarin motor, ibu sm ayah mau ajak kakak dulu"
Kakak : masih diam lalu minta dipeluk

Ya, ibu rasa kakak bisa menerima kesepakatan ini sampai kakak tidur dipeluk ibu sambil dengerin cerita dari boneka hafidz nya.

Ah kakak, ayo kita sama-sama belajar ya kak.. Ibu sm ayah pun masih harus belajar utk mengelola emosi, tetap dengan intonasi suara yg lembut dan wajah yg ramah. Kita juga akan sama2 belajar utk bisa menerima apa saja yg sudah terjadi dgn lapang dada tanpa memaksa lagi utk mengulang hal2 yg sudah terjadi sesuai dgn keinginan kita. Karena kak, dalam hidup ini kelak kita akan menemukan hal-hal yg tidak akan sesuai dgn keinginan kita dan kita tak mampu utk mengubahnya.

#level1
#day3
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif
#ceritabundarafif

Jumat, 02 Juni 2017

Diam ku untuk senyumku

Bismillahirrohmannirrohim...

Tantangan hari kedua ini sepertinya saya akan bercerita panjang jd saya memutuskan untuk menuliskannya di blog.

Tantangan tentang komunikasi produktif ini sepertinya PR besar bagi saya. Dengan latar belakang pendidikan rumah dari seorang ibu yang keras cukup mempengaruhi gaya saya dalam mendidik dan mengasuh kakak Rafif, anak pertama saya. Meskipun berbagai materi, artikel, buku atau apapun yg memberikan pemahaman tentang ilmu parenting, gaya komunikasi anak,dll, telah sy baca dan coba saya terapkan, tetap saja berbagai sikap yg tidak semestinya dilakukan kadang mengalir begitu saja. Tentu, jangan katakan hal ini sebagai masalah tapi katakanlah ini adalah tantangan yg harus saya taklukan.

Seperti hal nya hari ini dan mungkin beberapa hari lalu karena kejadian berulang. Kakak Rafif saat ini sedang dalam masa super aktif dan kritis. Banyak gerak seperti batre yang tak ada habisnya. Sering bertanya sampai Hal-hal yg sangat detil dan sering keukeuh terhadap pendapatnya sendiri kalo memang hal itu ga sesuai dgn yg dia tahu, dan suka punya ide jail yg kadang membuat tertawa kadang membuat kesal. Kondisi kakak yg aktif, kritis, suka keukeuh dan jail sangat disyukuri oleh saya dan suami. Karena kami menganggap bahwa jika anak aktif tanda nya sehat, jika anak kritis maka kemampuan otak nya berkembang, jika dia keukeuh maka dia memiliki bekal utk menjadi pribadi yg teguh pendiriannya tak mudah goyah dan jika dia jail maka dia memiliki selera humor yg bagus yg mampu merangsang daya pikirnya. Namun, bagaimana jika semua hal itu terjadi berbarengan kemudian menimbulkan hal2 yg tidak diinginkan dan di saat yg sama saya dalam keadaan lelah. Tentunya jalan pintas lah yg saya ambil utk meredam itu semua. Meninggikan intonasi suara, memasang wajah garang nan bertanduk sambil mengeluarkan berbagai kalimat tidak produktif. Berhasilkah? Ya untuk saat itu namun tidak mampu menyelesaikan akar masalah. Hal itu akan kembali terulang. Dan hari ini kakak kembali berulah, ingin rasanya mengomel ga karuan tapi logika ternyata masih bisa berfikir. Saya menarik nafas dalam-dalam sambil memproduksi berbagai kalimat positif disertai intonasi suara dan wajah yg ramah, namun pada saat dimana kalimat positif sulit utk muncul maka diam adalah senjata saya utk menghadapinya. Saya diamkan kakak, saya mencoba untuk menghindarinya, mengambil waktu sendiri utk beberapa saat sampai saya benar-benar bisa mengendalikan diri saya dan bisa memproduksi kalimat positif. Dan alhamdulillah, dengan cara "mendiamkan" ini cukup efektif utk kondisi hari ini. Saya bisa mengambil jeda utk tetap berfikir jernih dan ternyata kakak pun merasakan hal yg sama, setelah dia menyadari bahwa dia "didiamkan" oleh saya, dia sendiri yg mulai menyadari serta mengakui kesalahannya dan mengajak "berdamai" ala bocah yg pastinya membuat saya tersenyum menyambutnya Sehingga intonasi suara yg lembut serta wajah yg ramah mampu saya tampilkan dihadapannya dengan mengalir tanpa perlu dibuat-buat ataupun dipaksakan.

Ya, hal ini tak mudah memang. Hari ini bisa terlewati namun tantangan dihari berikutnya telah menanti dengan berbagai kejutan-kejutan lainnya. Dan senjata utama untuk menghadapinya hanyalah rangkaian do'a, semoga Allah memudahkan dan memampukan saya utk menghadapi tantangan-tantangan pengasuhan & pendidikan anak-anak saya sekarang ataupun nanti. Aamiin..

#level1
#day2
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif
#ceritabundarafif

Rabu, 29 Maret 2017

NHW #9 Bunda sebagai Agen Perubahan



Alhamdulillah akhirnya sampai juga pada NHW #9, pecan terakhir dalam kelas matrikulasi IIP. Tak terasa, 9 pekan sudah saya menerima berbagai ilmu yang sangat bermanfaat untuk kehidupan saya. Sayangnya, pada pecan terakhir ini, saya mengerjakannya dengan tidak tepat waktu, karena anak yang sakit dalam beberapa hari sehingga saya tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerjakannya. Namun, Alhamdulillah saya masih mampu mengejar ketertinggalan saya kali ini.
Dalam NHW #9 ini kita dipandu untuk menggunakan rumus :
PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE
Yang dibuat dalam bagan berikut, Semoga Allah memudahkan apa yang saya harapkan.


HOBI, MINAT, KETERTARIKAN

SKILL, HARD, SOFT
ISU SOSIAL
MASYARAKAT
IDE SOSIAL
Hobi : Mengajar
Ketertarikan : Dunia pendidikan anak usia dini, ilmu parenting
Suka belajar, mampu berkomunikasi dengan baik dengan anak-anak, suka bersosialisasi, memiliki rasa empati, optimis
Kondisi masyarakat (terutama orang tua) dengan tingkat pendidikan yang kurang belum memahami betul mengenai ilmu parenting sehingga mempengaruhi pola asuh anak-anak (terutama usia dini).
Anak-anak (terutama anak usia dini) dan para orang tua
Mengisi forum parenting di sekolah,
Membuat rumah bermain & belajar untuk anak,
Sharing ide kegiatan bermain & belajar anak sendiri di media social.

Rabu, 15 Maret 2017

MISI HIDUP DAN PRODUKTIFITAS




Alhamdulillah tak terasa proses belajar dalam tahapan matrikulasi ini sudah sampai di pekan ke-8 yang berarti tak lama lagi akan berakhir. Dan tiba juga pada NHW #8 yang masih merupakan kelanjutan dari NHW-NHW sebelumnya. Dalam NHW #8 ini kita diminta untuk focus pada hal-hal yang kita sukai dan kita bisa melakukannya. Kembali melihat NHW #8, pada kuadran SUKA dan BISA ada 4 hal yang saya tuliskan, diantaranya :

1.  Memasak & Membuat Kue
2.  Mengajar
3.  Membuat prakarya
4.  Mendongeng

Dalam instruksi NHW #8 dikatakan bahwa ambil satu aktifitas yang kita BISA dan SUKA lalu dilanjutkan dengan instruksi kedua. Namun, sepertinya saya akan mengambil 2 aktifitas yg saya BISA dan SUKA karena hal ini akan berkesinambungan dengan instruksi kedua. Dan dua aktifitas tersebut adalah memasak/membuat kue dan mengajar. Setelah menentukan aktifitas yang BISA dan SUKA ini, maka dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan BE DO HAVE.

1.   Kita ingin menjadi apa ? (BE)
     Saya ingin menjadi istri & ibu terbaik bagi suami dan anak saya.
     Saya ingin menjadi guru/pendidik yang baik bagi anak saya juga anak-anak didik saya.
     Saya ingin menjadi pemilik toko kue.
    
2.   Kita ingin melakukan apa ? (DO)
Saya ingin mempelajari metode pembelajaran anak usia dini.
Saya ingin membuka rumah bermain & belajar bagi anak usia dini
Saya ingin bekerja sama dengan orang yang memiliki bakat bisnis, sehingga bisa mengembangkan hobi saya dalam membuat kue menjadi sebuah bisnis.

3.   Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
Saya ingin memiliki sebuah tempat yang bisa digunakan sebagai rumah bermain dan belajar bagi anak usia dini berikut dengan segala fasilitasnya.
Saya ingin memiliki sebuah tempat yang digunakan untuk membuka usaha toko kue

Setelah mengisi BE DO HAVE, maka perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isi sesuai dengan :

1.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
Saya ingin menjadi istri dan ibu yang terbaik dengan pencapaian yang saya inginkan yaitu ingin menjadi hafidzah Quran agar bisa menjadi contoh baik bagi anak saya.

2.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
Dalam kurun waktu 5-10 tahun kedepan, ada beberapa hal yang ingin saya capai yaitu :
Saya ingin menunaikan ibadah haji atau umroh, saya ingin membuka rumah bermain dan belajar bagi anak usia dini, saya ingin membuka toko kue.

3.      Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Dalam waktu satu tahun ini, saya ingin bisa menyelesaikan program matrikulasi dan bunda sayang pada komunitas IIP, saya ingin menyelesaikan hafalan Qur’an saya selama setahun, saya ingin belajar mengenai pembelajaran anak usia dini.

Semoga apa yang saya cita-citakan bisa tercapai dan diridhoi Allah SWT.

Jumat, 10 Maret 2017

Tahapan Menjadi Bunda Produktif



Materi matrikulasi pekan ini mengulas tentang bagaimana menjadi bunda produktif. Bunda Produktif sesuai dengan value di Ibu Profesional adalah bunda yang akan berikhtiar menjemput rejeki, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya yaitu anak dan keluarga, karena “Rezeki itu pasti Kemuliaanlah yang harus dicari”. Teringat pengalaman ketika memutuskan untuk berhenti bekerja, banyak yang menyayangkan akan keputusan yang saya buat. Saya yang kala itu dipandang sudah memiliki pekerjaan yang bagus, posisi yang sesuai serta gaji yang lebih dari cukup dengan rela melepaskannya demi anak yang ingin saya asuh, ingin saya didik, ingin saya jaga dengan tangan saya sendiri. Bukan sebuah keputusan yang mudah bagi saya. Keputusan ini saya ambil setelah memikirkannya berulang kali, mendiskusikannya dengan suami serta memohon ketetapan terbaik dari Nya. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, suami saya mendukung apa yang menjadi keputusan saya. Rasa syukur sekali lagi saya rasakan bahwa saya dan suami memiliki pandangan yang sama yakni, “Rezeki sudah Allah atur, tidak perlu khawatir tidak kebagian rezeki. Yang terpenting adalah bisa membersamai anak dengan baik dan menjadikannya anak yang sholeh dan cerdas serta memiliki pribadi yang unggul”. Dan kini saya tengah menjalani peran saya sebagai Full Time Mom.

Tak terasa 3 tahun sudah saya menjalani kehidupan saya sebagai full time mom atau orang-orang lebih banyak mengatakan sebagai Ibu Rumah Tangga. Menjalani peran ini ternyata tidaklah mudah. Terkadang rasa lelah, ingin menyerah dan jenuh datang menghampiri. Namun saya bersyukur, Allah selalu mampu membangkitkan saya dari rasa jenuh melalui berbagai hal, mulai dari orang-orang disekitar hingga menakdirkan saya untuk dapat bergabung dengan komunitas IIP ini sehingga semangat saya untuk terus belajar, untuk terus meningkatkan kualitas diri bisa terjaga.

Berkaitan dengan materi kali ini, menjadi bunda produktif bagi saya bukan hanya sekedar mampu menghasilkan materi. Menjadi bunda produktif berarti mampu menjadi pribadi yang dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga maupun lingkungan.

Dalam kondisi saya sebagai seorang ibu rumah tangga atau full time mom, menjadi produktif berarti mampu mengasuh & mendidik anak dengan sebaik-baiknya, mampu mengurus suami dengan sebaik-baiknya, mampu mengurus rumah dengan sebaik-baiknya dan mampu mengamalkan ilmu diluar rumah dengan sebaik-baiknya. Dan untuk menjadi bunda produktif harus mampu pula mengenal bakat serta potensi yang ada dalam diri, agar apa yang yang menjadi potensi tersebut dapat secara maksimal dikembangkan demi menebar manfaat. Dalam NHW #7 ini saya menjawab quisioner pada temubakat.com dengan hasil sbb (pada gambar disamping) :   

Secara keseluruhan, hasil ini banyak yang sesuai dengan karakter saya. Beberapa aktifitas yang saya lakukan saat ini pun sesuai dengan bakat yang saya miliki. Oleh sebab itu, saya akan tetap focus pada bakat saya dan menyiasati apa yang jadi kekurangan saya.

Kuadran Aktifitas

Poin terakhir dalam NHW #7 ini, adalah membuat diagram aktifitas. Berbagai aktifitas yang sehari-hari dilakukan tentunya ada yang kita sukai dan bisa kita lakukan, ada yang tidak kita sukai tapi bisa dilakukan, ada yang kita sukai namun tidak bisa dilakukan dan terakhir ada aktifitas yang tidak kita sukai dan tidak bisa kita lakukan. Segala aktifitas ini tentunya tetap berhubungan dengan bakat-bakat yang kita miliki. Dan berikut ini adalah kuadran aktifitas saya :


Bisa
Tidak Bisa
Suka
1.  Memasak & Membuat Kue
2.  Mengajar
3.  Membuat prakarya
4.  Mendongeng
1.    Berjualan
2.    Menjahit
3.    Jalan-jalan ke tempat jauh
4.    Berenang

Tidak Suka
1.    Membereskan rumah
2.    Olahraga
3.    Menyetrika
1.    Berdandan
2.    Memperbaiki alat-alat rusak