Bismillahirrohmannirrohim..
Salah satu poin mengenai melatih kemandirian kakak yang lain adalah melatih untuk bisa membersihkan diri setelah BAK maupun BAB. Alhamdulillah kakak sudah lulus toilet training di usia 22 bulan. Setiap kali kakak mau BAK ataupun BAB selalu bilang dan alhamdulillah tak pernah mengompol. Namun untuk urusan membersihkan bekas BAK maupun BAB selalu dibantu oleh ibu. Pernah ibu coba biarkan kakak membersihkan bekas BAK nya namun ada saja yang kurang bersih yang menjadikan ibu belum bisa mempercayai kakak, ditambah dengan ayah yang sangat apik dalam kebersihan, khawatir ada sisa najis yang terinjak atau apalah, jadi untuk menghindari hal-hal itu ibu selalu membantu kakak membersihkan bekas BAK dan BAB nya. Namun, sepertinya hal ini harus diubah secara perlahan dan terarah. Mengingat kakak sudah mulai besar, dan suatu saat jika kakak sekolah, maka kakak harus bisa menguris diri nya sendiri dan tidak merepotkan orang lain. Maka, mulai dari sekarang, ibu mencoba memantapkan hati, meyakinkan diri bahwa kakak pasti bisa membersihkan bekas BAK maupun BAB nya dengan bersih. Perlahan ibu akan terus membimbing kakak melakukan semua nya sendiri. Walau suka geregetan pengen ikut bantu, tp ibu harus bisa menjaga agat kakak bisa jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab. Bismillah ya Kak, pasti bisa!!!
#melatihkemandirian
#bunsayiip
#kuliahbunsayiip
#level2
#tantangan10hari
#ceritabundarafif
#day4
Minggu, 16 Juli 2017
Semoga selalu istiqomah
Bismillahirrohmannirrohim..
Hari ini sudah hari ke-empat ibu membiasakan kakak makan sendiri. Ibu masih sering geregetan sih kalo liat kakak makan, yang tiba-tiba bergerak sana sini ditengah waktu makan atau sambil ngobrol sana sini. Waktu kakak banyak gerak itu, rasanya ingin sekali mengambil piring nya lalu menyuapinya sampai habis. Tapi ya kalo ibu nya kalah sama "gereget" nya ibu, kakak akan lebih susah untuk bisa makan dengan tertib nanti nya. Sekarang ini, ketika ibu melihat kakak bergerak kesana kemari ditengah makan, ibu akan coba untuk tetap tenang sambil mengingatkan kakak agar tetap tertib ketika makan. Alhamdulillah walau harus mengingatkan beberapa kali kakak mampu menyelesaikan makannya dengan bain dan semakin baik dari hari ke hari. Semoga keistiqomahan ibu dan kakak tetap terjaga hingga kemandirian itu muncul dari kesadaran diri sendiri.
#melatihkemandirian
#bunsayiip
#kuliahbunsayiip
#level2
#tantangan10hari
#ceritabundarafif
#day3
| Makanan kakak yang habis sendiri |
Hari ini sudah hari ke-empat ibu membiasakan kakak makan sendiri. Ibu masih sering geregetan sih kalo liat kakak makan, yang tiba-tiba bergerak sana sini ditengah waktu makan atau sambil ngobrol sana sini. Waktu kakak banyak gerak itu, rasanya ingin sekali mengambil piring nya lalu menyuapinya sampai habis. Tapi ya kalo ibu nya kalah sama "gereget" nya ibu, kakak akan lebih susah untuk bisa makan dengan tertib nanti nya. Sekarang ini, ketika ibu melihat kakak bergerak kesana kemari ditengah makan, ibu akan coba untuk tetap tenang sambil mengingatkan kakak agar tetap tertib ketika makan. Alhamdulillah walau harus mengingatkan beberapa kali kakak mampu menyelesaikan makannya dengan bain dan semakin baik dari hari ke hari. Semoga keistiqomahan ibu dan kakak tetap terjaga hingga kemandirian itu muncul dari kesadaran diri sendiri.
#melatihkemandirian
#bunsayiip
#kuliahbunsayiip
#level2
#tantangan10hari
#ceritabundarafif
#day3
Sabtu, 15 Juli 2017
Nasi Timbel Kakak
Bismillahirrohmannirrohin..
Beberapa hari lalu kakak ikut bersama ibu ke sekolah untuk rapat persiapan tahun ajaran baru. Alhamdulillah kakak kooperatif sekali, asyik bermain tanpa mengganggu rapat dan kegiatan beres-beres ibu bersama guru lain. Sampai seorang ibu penjual timbel beserta lauk pauk mampir ke sekolah kami. Waktu itu kami memang sedang beristirahat. Tiba-tiba kakak minta dibelikan ayam goreng dengan nasi nya dan dia pun bilang "kakak mau makan sendiri". Sempat ragu juga, ini kan bukan di rumah tp di tempat umum, apa kakak bisa makan sendiri tanpa sendok sambil duduk tanpa kemana-mana atau sambil bermain? Tapi karena kakak keukeuh, ibu coba meyakinkan diri bahwa kakak pasti bisa, kalau ibu tidak memberinya kesempatan dan kepercayaan kapan kakak akan bisa. Dan akhirnya ibu belikan kakak satu timbel berikut dengan ayam goreng kesukaannya. Setelah kakak mencuci tangannya sendiri, ia duduk di salah satu sudut kelas untuk memulai makan dan tak lupa membaca doa sebelum makan. Ibu tinggalkan kakak dengan makanannya, dengan terlebih dahulu mengatakan "kakak anak hebat bisa makan sendiri yaa". Ibu coba terus meyakinkan diri kakak bisa bertahan untuk menyelesaikan makanannya. Ketika waktu sudah beberapa menit berjalan ibu melihat kakak sudah berjalan-jalan siap bermain lagi. Langsung ibu mengecek tempat kakak dukuk. Dan ternyata nasi timbel masih sisa setengah lagi dan ayam goreng nya pun tidak habis. Agak kecewa melihat kakak malah asyik main lagi tanpa menyelesaikan makannya setidaknya membereskan bekas makanannya. Tapi ya dipikir lagi, nasi timbel yg disediakan bukan porsi kakak tapi porsi orang dewasa, jadi sebenarnya alhamdulillah bersyukur sekali kakak bisa menyelesaikan makannya walaupun masih ada PR nya yaitu membereskan tempat makan setelah makan.
Dari cerita ini, ada pengalaman baru lagi untuk ibu bahwa ibu harus memulai memberi kepercayaan bagi kakak agar tumbuh rasa keberanian dan kemandirian.
#ceritabundarafif
#level2
#latihankemandirian
#bunsayiip
#kuliahbunsayiip
#tantangan10hari
Beberapa hari lalu kakak ikut bersama ibu ke sekolah untuk rapat persiapan tahun ajaran baru. Alhamdulillah kakak kooperatif sekali, asyik bermain tanpa mengganggu rapat dan kegiatan beres-beres ibu bersama guru lain. Sampai seorang ibu penjual timbel beserta lauk pauk mampir ke sekolah kami. Waktu itu kami memang sedang beristirahat. Tiba-tiba kakak minta dibelikan ayam goreng dengan nasi nya dan dia pun bilang "kakak mau makan sendiri". Sempat ragu juga, ini kan bukan di rumah tp di tempat umum, apa kakak bisa makan sendiri tanpa sendok sambil duduk tanpa kemana-mana atau sambil bermain? Tapi karena kakak keukeuh, ibu coba meyakinkan diri bahwa kakak pasti bisa, kalau ibu tidak memberinya kesempatan dan kepercayaan kapan kakak akan bisa. Dan akhirnya ibu belikan kakak satu timbel berikut dengan ayam goreng kesukaannya. Setelah kakak mencuci tangannya sendiri, ia duduk di salah satu sudut kelas untuk memulai makan dan tak lupa membaca doa sebelum makan. Ibu tinggalkan kakak dengan makanannya, dengan terlebih dahulu mengatakan "kakak anak hebat bisa makan sendiri yaa". Ibu coba terus meyakinkan diri kakak bisa bertahan untuk menyelesaikan makanannya. Ketika waktu sudah beberapa menit berjalan ibu melihat kakak sudah berjalan-jalan siap bermain lagi. Langsung ibu mengecek tempat kakak dukuk. Dan ternyata nasi timbel masih sisa setengah lagi dan ayam goreng nya pun tidak habis. Agak kecewa melihat kakak malah asyik main lagi tanpa menyelesaikan makannya setidaknya membereskan bekas makanannya. Tapi ya dipikir lagi, nasi timbel yg disediakan bukan porsi kakak tapi porsi orang dewasa, jadi sebenarnya alhamdulillah bersyukur sekali kakak bisa menyelesaikan makannya walaupun masih ada PR nya yaitu membereskan tempat makan setelah makan.
Dari cerita ini, ada pengalaman baru lagi untuk ibu bahwa ibu harus memulai memberi kepercayaan bagi kakak agar tumbuh rasa keberanian dan kemandirian.
#ceritabundarafif
#level2
#latihankemandirian
#bunsayiip
#kuliahbunsayiip
#tantangan10hari
Kamis, 13 Juli 2017
Anakku anak yang mandiri
Bismillahirrohmannirrohim...
Alhamdulillah kelas bunda sayang sudah memasuki bulan kedua dengan materi baru juga tantangan yang baru. Materi dan tantangan di bulan kedua ini adalah tentang kemandirian. Tema yang sangat cocok sekali dengan kondisi ibu dan kakak saat ini yang ingin mengkonsistenkan diri melatih kemandirian kakak.
Untuk hal kemandirian ini, ada beberapa poin kemandirian yang ingin ibu latih untuk kakak, diantaranya adalah :
1. Mandiri untuk makan sendiri
2. Membersihkan BAB & BAK sendiri (cebok sendiri)
3. Mandi sendiri
4. Memakai baju sendiri
5. Dan beberapa kegiatan keseharian yang harus diselesaikan sendiri
Dari poin-poin diatas, sebenarnya kakak sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Lalu apa tantangannya? Sebenarnya, tantangannya ada pada diri ibu sendiri. Hal yang ibu sadari saat ini adalah ibu terlalu sering melakukan intervensi terhadap berbagai kegiatan kemandirian kakak yang sebenarnya bisa kakak lakukan sendiri.
Sebagai contoh, untuk utusan makan. Kakak sudah bisa makan sendiri, mengambil makanan dengan sendok lalu menyuapkannya ke mulut sudah lancar bisa kakak lakukan. Namun, seperti beberapa tulisan ibu yang lalu bahwa kakak adalah anak dengan tipe kinestetik yang badannya akan sangat nyaman jika ia bisa bergerak bebas kesana kemari. Jadi, ketika waktu makan tiba di beberapa menit awal kakak akan bisa duduk manis menikmati makanannya, namun beberapa menit kemudian ketika makanan belum habis dimakan, kakak sudah bergerak kesana kemari dan seringkali makanannya akan terlantar, dan ibu yang geregetan melihatnya karena terlalu lama membiarkan makanannya, akan langsung mengambil piringnya lalu menyuapi kakak makan sambil melihatnya bergerak kesana kemari sampai makanannya habis. Salah satu yang ibu syukuri adalah kakak bukan anak yang susah makan sangat jatang sekali GTM, makannya "bagus" tapi ya dengan bantuan suapan ibu.
Dan saat ini ibu menyadari kesalahan ibu yang terlalu mengintervensi kegiatan kemandirian kakak. Apalagi saat ini ibu sedang hamil adik nya kakak, semakin terbayang jika kakak masih seperti ini nanti jika adiknya lahir, mungkin ibu akan kerepotan atau mungkin kebutuhan kakak akan sedikit terbengkalai karena ia belum mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Maka, dengan adanya tantangan level #2 ini semakin menguatkan tekad ibu untuk berusaha melatih kemandirian kakak. Bukan karena ibu tidak mau kerepotan oleh kakak, karena semua ibu pasti akan melakukan apapun demi anaknya. Hal ini demi kakak sendiri, agar kakak jadi anak mandiri, berani dan percaya diri untuk bekalnya dimasa depan.
Jadi, mulai dari hari ini ibu akan berusaha untuk meminimalisasi intervensi dalam berbagai kegiatan kemandirian kakak. Semoga Allah memudahkan ikhtiar ini karena tiada pertolongan yang paling utama melainkan dari Nya.
#level2
#bunsayiip
#melatihkemandirian
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#day1
#ceritabundarafif
Alhamdulillah kelas bunda sayang sudah memasuki bulan kedua dengan materi baru juga tantangan yang baru. Materi dan tantangan di bulan kedua ini adalah tentang kemandirian. Tema yang sangat cocok sekali dengan kondisi ibu dan kakak saat ini yang ingin mengkonsistenkan diri melatih kemandirian kakak.
Untuk hal kemandirian ini, ada beberapa poin kemandirian yang ingin ibu latih untuk kakak, diantaranya adalah :
1. Mandiri untuk makan sendiri
2. Membersihkan BAB & BAK sendiri (cebok sendiri)
3. Mandi sendiri
4. Memakai baju sendiri
5. Dan beberapa kegiatan keseharian yang harus diselesaikan sendiri
Dari poin-poin diatas, sebenarnya kakak sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Lalu apa tantangannya? Sebenarnya, tantangannya ada pada diri ibu sendiri. Hal yang ibu sadari saat ini adalah ibu terlalu sering melakukan intervensi terhadap berbagai kegiatan kemandirian kakak yang sebenarnya bisa kakak lakukan sendiri.
Sebagai contoh, untuk utusan makan. Kakak sudah bisa makan sendiri, mengambil makanan dengan sendok lalu menyuapkannya ke mulut sudah lancar bisa kakak lakukan. Namun, seperti beberapa tulisan ibu yang lalu bahwa kakak adalah anak dengan tipe kinestetik yang badannya akan sangat nyaman jika ia bisa bergerak bebas kesana kemari. Jadi, ketika waktu makan tiba di beberapa menit awal kakak akan bisa duduk manis menikmati makanannya, namun beberapa menit kemudian ketika makanan belum habis dimakan, kakak sudah bergerak kesana kemari dan seringkali makanannya akan terlantar, dan ibu yang geregetan melihatnya karena terlalu lama membiarkan makanannya, akan langsung mengambil piringnya lalu menyuapi kakak makan sambil melihatnya bergerak kesana kemari sampai makanannya habis. Salah satu yang ibu syukuri adalah kakak bukan anak yang susah makan sangat jatang sekali GTM, makannya "bagus" tapi ya dengan bantuan suapan ibu.
Dan saat ini ibu menyadari kesalahan ibu yang terlalu mengintervensi kegiatan kemandirian kakak. Apalagi saat ini ibu sedang hamil adik nya kakak, semakin terbayang jika kakak masih seperti ini nanti jika adiknya lahir, mungkin ibu akan kerepotan atau mungkin kebutuhan kakak akan sedikit terbengkalai karena ia belum mampu memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Maka, dengan adanya tantangan level #2 ini semakin menguatkan tekad ibu untuk berusaha melatih kemandirian kakak. Bukan karena ibu tidak mau kerepotan oleh kakak, karena semua ibu pasti akan melakukan apapun demi anaknya. Hal ini demi kakak sendiri, agar kakak jadi anak mandiri, berani dan percaya diri untuk bekalnya dimasa depan.
Jadi, mulai dari hari ini ibu akan berusaha untuk meminimalisasi intervensi dalam berbagai kegiatan kemandirian kakak. Semoga Allah memudahkan ikhtiar ini karena tiada pertolongan yang paling utama melainkan dari Nya.
#level2
#bunsayiip
#melatihkemandirian
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#day1
#ceritabundarafif
Jumat, 07 Juli 2017
Aliran Rasa Materi Komunikasi Produktif
Bismillahirrohmannirrohim..
Tantangan 10 hari mengenai komunikasi produktif telah dilalui. Walaupun harus ada yang dirapel atau telat kirim karena kondisi saat itu yang memang berhalangan, tapi alhamdulillah ibu bisa menyelesaikannya. Tantangan dalam komunikasi produktif ini bkn hanya untuk menyelesaikan tantangan secara tertulis selama 10 hari namun tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana konsistensi kita dalam komunikasi produktif kita sehari-hari. Alhamdulillah, ibu sangat bersyukur dgn adanya materi dan tantangan tentang komunikasi produktif ini, karena dgn ini ibu bisa terus belajar dan berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi secara konsisten. Semoga Allah memudahkan upaya ibu untuk menjadi ibu yang terbaik bagi kakak dan adik-adiknya kelak.
Terima kasih juga kepada korlan perdana kami yang keren, fasil kelas bunda sayang, juga seluruh tim IIP yang sudah membuat materi yang sangat bagus. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan semua dengan balasan yang terbaik.
#aliranrasa
Tantangan 10 hari mengenai komunikasi produktif telah dilalui. Walaupun harus ada yang dirapel atau telat kirim karena kondisi saat itu yang memang berhalangan, tapi alhamdulillah ibu bisa menyelesaikannya. Tantangan dalam komunikasi produktif ini bkn hanya untuk menyelesaikan tantangan secara tertulis selama 10 hari namun tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana konsistensi kita dalam komunikasi produktif kita sehari-hari. Alhamdulillah, ibu sangat bersyukur dgn adanya materi dan tantangan tentang komunikasi produktif ini, karena dgn ini ibu bisa terus belajar dan berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi secara konsisten. Semoga Allah memudahkan upaya ibu untuk menjadi ibu yang terbaik bagi kakak dan adik-adiknya kelak.
Terima kasih juga kepada korlan perdana kami yang keren, fasil kelas bunda sayang, juga seluruh tim IIP yang sudah membuat materi yang sangat bagus. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan semua dengan balasan yang terbaik.
#aliranrasa
Senin, 12 Juni 2017
Temannya Kakak
Bismillahirrohmannirrohim..
Akhirnya bisa sampai di hari ke-10, walaupun terlambat, walaupun perjalanan masih panjang, setidaknya game level 1 ini bisa ibu selesaikan.
Baiklah kali ini ibu akan bercerita tentang kakak dan temannya. Setiap harinya, ibu mengajar di sebuah PAUD dekat rumah. Kakak, walaupun belum sekolah selalu ikut ibu ke sekolah. Bukan untuk sekolah tapi untuk ikut main. Alhamdulillah kakak anak yang mudah bergaul. Kakak bisa mudah nimbrung main bersama teman-teman lainnya di sekolah yang rata2 usianya diatas kakak. Tapi, kakak punya 1 teman yang paling dekat, anak ini seusia dengan kakak. Sama seperti kakak, anak inipun belum sekolah hanya sering ikut menemani kakak nya yang sekolah. Saking dekat nya, kakak selalu membicatakan anak ini, selalu rindu ingin bermain, selalu senang jika bertemu. Namun, persahabatan ini ga selalu berjalan mulus. Sama seperti persahabatan orang dewasa, kadang lengket kadang ada saja pertengkaran kecil. Begitupun kakak dan temannya ini. Hampir setiap hari ada saja gesekan-gesekan kecil diantara mereka ya walaupun anak-anak ini lebih cepat baikan dibanding orang dewasa. Awalnya hal ini ibu anggap wajar. Tapi lama-kelamaan ibu perhatikan anak ini lebih agresif menggunakan tangannya untuk memukul, sementara kakak bukan anak yang suka memukul. Jadilah kakak selalu jadi korban pukul si anak ini. Kakak adalah anak yg perasa, dia jarang sekali bahkan hampir tidak pernah memukul, daripada membalas memukul kakak malah menangis, disuruh membalas pun kakak ga mau. Ibu agak bingung bagaimana harus menyikapi masalah ini. Kadang suka gemes ya, anak sendiri jadi korban, trus kalau kakak nangis kesan nya kakak ini anak cengeng. Kadang suka agak kesel juga ke kakak, pengen bilang "udah donk kak jangan nangis gitu, malu-maluin aja". Tapi ya ga adil juga buat kakak, karena ibu paling tau gimana kakak. Haduuuh, pengen juga rasanya kasih pengumuman di spanduk "anak saya ga cengeng yaa.. Dia memang ga mau nyakitin orang hanya saja dia ga tau cara bales yang tepat". Tapi ya ga mungkin juga kan.. Hahaha...
Lalu, kalau kita menegur anak itu juga efeknya tidak akan terlalu besar jika dibandingkan dgn pengasuhan dari orang tua nya sendiri, bagaimana dia dididik di rumah.
Nah, satu-satunya cara yang bisa ibu lakukan adalah dengan bicara dari hari ke hati dengan kakak, bicara tentang baik buruk suatu perilaku yang terjadi pada dirinya oleh dirinya sendiri maupun orang lain sehingga kakak diajak berfikir apakah suatu perbuatan itu buruk atau baik lalu bagaimana menemukan solusinya. Sekali lagi, ini masih dalam proses, semoga ibu selalu istiqomah, berbicara dgn sadar dan waras untuk menggunakan intonasi suara ketika bicara dengan kakak. Semoga Allah memudahkan jalan ini.
#level1
#day10
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif
#ceritabundarafif
Akhirnya bisa sampai di hari ke-10, walaupun terlambat, walaupun perjalanan masih panjang, setidaknya game level 1 ini bisa ibu selesaikan.
Baiklah kali ini ibu akan bercerita tentang kakak dan temannya. Setiap harinya, ibu mengajar di sebuah PAUD dekat rumah. Kakak, walaupun belum sekolah selalu ikut ibu ke sekolah. Bukan untuk sekolah tapi untuk ikut main. Alhamdulillah kakak anak yang mudah bergaul. Kakak bisa mudah nimbrung main bersama teman-teman lainnya di sekolah yang rata2 usianya diatas kakak. Tapi, kakak punya 1 teman yang paling dekat, anak ini seusia dengan kakak. Sama seperti kakak, anak inipun belum sekolah hanya sering ikut menemani kakak nya yang sekolah. Saking dekat nya, kakak selalu membicatakan anak ini, selalu rindu ingin bermain, selalu senang jika bertemu. Namun, persahabatan ini ga selalu berjalan mulus. Sama seperti persahabatan orang dewasa, kadang lengket kadang ada saja pertengkaran kecil. Begitupun kakak dan temannya ini. Hampir setiap hari ada saja gesekan-gesekan kecil diantara mereka ya walaupun anak-anak ini lebih cepat baikan dibanding orang dewasa. Awalnya hal ini ibu anggap wajar. Tapi lama-kelamaan ibu perhatikan anak ini lebih agresif menggunakan tangannya untuk memukul, sementara kakak bukan anak yang suka memukul. Jadilah kakak selalu jadi korban pukul si anak ini. Kakak adalah anak yg perasa, dia jarang sekali bahkan hampir tidak pernah memukul, daripada membalas memukul kakak malah menangis, disuruh membalas pun kakak ga mau. Ibu agak bingung bagaimana harus menyikapi masalah ini. Kadang suka gemes ya, anak sendiri jadi korban, trus kalau kakak nangis kesan nya kakak ini anak cengeng. Kadang suka agak kesel juga ke kakak, pengen bilang "udah donk kak jangan nangis gitu, malu-maluin aja". Tapi ya ga adil juga buat kakak, karena ibu paling tau gimana kakak. Haduuuh, pengen juga rasanya kasih pengumuman di spanduk "anak saya ga cengeng yaa.. Dia memang ga mau nyakitin orang hanya saja dia ga tau cara bales yang tepat". Tapi ya ga mungkin juga kan.. Hahaha...
Lalu, kalau kita menegur anak itu juga efeknya tidak akan terlalu besar jika dibandingkan dgn pengasuhan dari orang tua nya sendiri, bagaimana dia dididik di rumah.
Nah, satu-satunya cara yang bisa ibu lakukan adalah dengan bicara dari hari ke hati dengan kakak, bicara tentang baik buruk suatu perilaku yang terjadi pada dirinya oleh dirinya sendiri maupun orang lain sehingga kakak diajak berfikir apakah suatu perbuatan itu buruk atau baik lalu bagaimana menemukan solusinya. Sekali lagi, ini masih dalam proses, semoga ibu selalu istiqomah, berbicara dgn sadar dan waras untuk menggunakan intonasi suara ketika bicara dengan kakak. Semoga Allah memudahkan jalan ini.
#level1
#day10
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif
#ceritabundarafif
Minggu, 11 Juni 2017
Sebuah Proses yg Masih Berlanjut
Bismillahirrohmannirrohim..
Rencana ibu ketika mendapat tantangan 10 hari bercerita ini adalah ibu bisa menyelesaikannya tepat waktu. Tapi apalah daya sekarang sudah hari ke 11 dan ibu baru mengerjakan #day9. Sedih rasanya, beberapa hari terakhir ibu sakit dan memang banyak hal yg harus diselesaikan dalam waktu yg bersamaan. Ya sudahlah, yg terpenting sekarang ibu mau berusaha menuntaskannya dulu.
Baiklah, kali ini ibu akan bercerita suatu kejadian ketika berbuka shaum. Seperti biasa, kakak yg walaupun blm shaum selalu antusias untuk ikut buka shaum bersama. Biasanya ibu buat es jelly susu, campuran jelly, nata de coco, buah-buahan dan susu cair untuk buka shaum. Dan itu adalah menu favorit kakak Rafif. Kakak selalu ingin makan es jelly nya sendiri. Sesendok-sesendok kakak menyendokkan nata de coco ke dalam mulutnya, namun terkadang ketika kakak makan, air dari es jelly tersebut menetes-netes ke lantai. Beberapa kali ibu katakan bahwa kakak harus lebih hati-hati, namun kakak masih saja dengan gaya cueknya tidak mau mendengarkan ibu. Sampai pd akhir nya gelas yg dipegang tersenggol dan es jelly di dalamnya tumpah. Melihat hal itu tentu rasanya ingin langsung teriak. Tapi alhamdulillah, mungkin masih dalam waktu berbuka, waktu dimana segala doa diijabah, sehingga Allah bisa menahan ibu untuk tidak berteriak. Ibu langsung mengambil lap ke dapur tapi sambil diam. Ya, ibu rasa diam masih jalan terbaik untuk meredam emosi dari pada ngamuk2 ngomel2.
Tapi, ketika ibu cb mengepel lantai yg basah dan lengket karena tumpahan air s jelly, kakak malah main2 diatas tumpahan air.. Huwaaaa... Rasanya macem2 deh. Tapi ya td itu, ibu hrs konsisten untuk tetap tenang menyikapi nya. Setelah semua selesai, kakak pun ganti baju, baru ibu & ayah cb ngobrol baik2 sama kakak. Walaupun respon kakak hanya diam ngangguk2, ibu yakin kakak bisa mengerti dan bisa lebih baik lagi kedepannya.
Alhamdulillah sekarang jado lebih terasa. Adanya tantangan ini jadi rem buat ibu kalo ibu mau emosi, bicara dengan nada tinggi atau marah-marah ga jelas. Ibu jg masih belajar untuk tetap tenang. Semoga Allah memudahkan proses ini.
#level1
#day9
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif
#ceritabundarafif
Rencana ibu ketika mendapat tantangan 10 hari bercerita ini adalah ibu bisa menyelesaikannya tepat waktu. Tapi apalah daya sekarang sudah hari ke 11 dan ibu baru mengerjakan #day9. Sedih rasanya, beberapa hari terakhir ibu sakit dan memang banyak hal yg harus diselesaikan dalam waktu yg bersamaan. Ya sudahlah, yg terpenting sekarang ibu mau berusaha menuntaskannya dulu.
Baiklah, kali ini ibu akan bercerita suatu kejadian ketika berbuka shaum. Seperti biasa, kakak yg walaupun blm shaum selalu antusias untuk ikut buka shaum bersama. Biasanya ibu buat es jelly susu, campuran jelly, nata de coco, buah-buahan dan susu cair untuk buka shaum. Dan itu adalah menu favorit kakak Rafif. Kakak selalu ingin makan es jelly nya sendiri. Sesendok-sesendok kakak menyendokkan nata de coco ke dalam mulutnya, namun terkadang ketika kakak makan, air dari es jelly tersebut menetes-netes ke lantai. Beberapa kali ibu katakan bahwa kakak harus lebih hati-hati, namun kakak masih saja dengan gaya cueknya tidak mau mendengarkan ibu. Sampai pd akhir nya gelas yg dipegang tersenggol dan es jelly di dalamnya tumpah. Melihat hal itu tentu rasanya ingin langsung teriak. Tapi alhamdulillah, mungkin masih dalam waktu berbuka, waktu dimana segala doa diijabah, sehingga Allah bisa menahan ibu untuk tidak berteriak. Ibu langsung mengambil lap ke dapur tapi sambil diam. Ya, ibu rasa diam masih jalan terbaik untuk meredam emosi dari pada ngamuk2 ngomel2.
Tapi, ketika ibu cb mengepel lantai yg basah dan lengket karena tumpahan air s jelly, kakak malah main2 diatas tumpahan air.. Huwaaaa... Rasanya macem2 deh. Tapi ya td itu, ibu hrs konsisten untuk tetap tenang menyikapi nya. Setelah semua selesai, kakak pun ganti baju, baru ibu & ayah cb ngobrol baik2 sama kakak. Walaupun respon kakak hanya diam ngangguk2, ibu yakin kakak bisa mengerti dan bisa lebih baik lagi kedepannya.
Alhamdulillah sekarang jado lebih terasa. Adanya tantangan ini jadi rem buat ibu kalo ibu mau emosi, bicara dengan nada tinggi atau marah-marah ga jelas. Ibu jg masih belajar untuk tetap tenang. Semoga Allah memudahkan proses ini.
#level1
#day9
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif
#ceritabundarafif
Langganan:
Postingan (Atom)



