Minggu, 26 Februari 2017

Design Pembelajaran

Bismillahirrohmannirrohim

Alhamdulillah akhirnya sampai pula di NHW #5. Dan sudah ketiga kali nya proses pembuatan maupun pengiriman NHW #5 saya mengalami keterlambatan. Rasanya beberapa pekan ini sy kesulitan untuk bisa menyelesaikannya dikarenakan beberapa hal tak terduga yang terjadi akhir-akhir ini. Semoga ibu kormin, ibu ketua kelas maupun ibu fasil bisa memakluminya..

Berbicara mengenai NHW #5, yaitu membuat design pembelajaran sendiri, rasanya agak membingungkan untuk saya harus memulai dari mana. Setelah mencari arti kata design pembelajaran melalui google, saya malah makin bingung, akhirnya setelah saya mengulang membaca materi kelima pekan ini, belajar caranya belajar, saya mencoba untuk menerjemahkan design pembelajaran untuk diri saya sendiri. Karena tidak ada aturan baku mengenai benar atau salah dalam pembuatan NHW #5 ini, maka menurut saya, design pembelajaran merupakan rancangan cara-cara yang akan digunakan untuk belajar, mempelajari ilmu yang sudah ditetapkan di awal ketika NHW#1 dengan disertai mengaitkannya dengan potensi yang saya miliki dan beberapa hal yang sudah tertuang dalam NHW-NHW berikutnya. Oleh karena itu, sdesign pembelajaran yang saya susun untuk diri saya sendiri maupun untuk anak saya didasarkan pada :

1. Ilmu yang ingin dipelajari
2. Potensi diri masing-masing
3. Gaya belajar
4. Dan pendukung-pendukung lainnya

Berikut ini merupakan uraian dari hal diatas :

1. Ilmu yang dipelajari
Mengingat NHW sebelumnya bahwa saya ingin mendalami tentang ilmu mengenal diri yang difokuskan dalam misi pesifik dalam bidang pendidikan anak usia dini, maka ilmu-ilmu pendukung haruslah dipelajari, yang antara lain adalah, ilmu bunda sayang, ilmu mengenai psikologi anak, ilmu bunda cekatan, serta ilmu bunda produktif yang kesemuanya akan dipelajari secara bertahap dalam komunitas ibu profesional ini. Selain darikomunitas ibu profesional, ilmu-ilmu ini akan saya dapatkan dari berbagai sumber literatur yang bisa saya dapatkan maupun dengan berdiskusi dengan beberapa orang yanhgdianggap ahli dalam bidang ilmu masing-masing.

2. Potensi yang dimiliki
Kemauan saya untuk terus belajar merupakan salah satu potensi yg saya miliki. Oleh karenanya, saya harus terus memupuk rasa ingin tau saya dengan terus belajar.

3. Gaya belajar
Saya termasuk dalam orang-orang yang lebih senang memanjakan mata dan pendengaran untuk bisa menangkap suatu informasi atau ilmu. Oleh karena nya, gaya belajar yang saya miliki adalah gaya audio visual dengan lebih dominan visualnya. Dengan membaca sesuatu, saya akan leboh mudah memahami sebuah informasi atau ilmu. Maka, saya akan lebih banyak membaca berbagai referensi untuk menunjang ilmu-ilmu yang sedang dan akan saya pelajari.

4. Pendukung lainnya
Keberadaan keluarga (suami dan anak) merupakan sebuah dukungan yang paling berharga untuk mencapai mosi spesifik hidup. Dengan adanya suami, saya mendapatkan partner diskusi yang baik, bersamanyalah saya bisa meluapkan apa saya yang menjadi kendala dalam perjalanan menuntaskan misi spesifik hidup dan berbago apapun mengenai berbagai ilmu yang ingin dan sudah dipelajari. Lalu, keberatldaan anak pun merupakan hal yang sangat penting. Dia lah guru kecil saya. Mengajarkan saya banyak hal yang tak bisa saya dapatkan dari mana pun. Oleh karena nya, saya akan terus menjaganya hingga dewasa, menjaga fitrah keimanan nya & fitrahnya sebagai pembelajar.

Demikian design pembelajaran yang saya rancang untuk dapat merealisasikan ilmu yang ingin dicapai untuk mencapai misi spesifik hidup. Semoga apa yang saya tulis mampu saya realisasikan dalam kehidupan ini. Dan apa yang saya tulis akan senantiasa saya perbarui sesuai dengan kebutuhan dan ilmu yang saya dapatkan.

Minggu, 19 Februari 2017

Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah



Bismillahirrohmannirrohim…

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga NHW #4 ini. Perjalanan yang tak mudah bagi saya menyelesaikan NHW #1 #2 dan #3. Banyak hal yang sebenarnya ingin saya ungkapkan namun, saya memiliki keterbatasan tentang bagaimana merangkai kata-kata. Saya sangat bersyukur mendapatkan materi-materi dalam tahap matrikulasi ini. Semakin saya melihat dan mendalami materi yang telah diberikan, semakin saya memahami alur hidup saya sendiri. Melihat kembali catatan saya pada NHW #1, bahwa saya ingin mendalami ilmu mengenal diri, saya merasa pas sekali dengan materi yang saya dapatkan di matrikulasi ini. Setiap diri kita memiliki misi spesifik hidup yang sangat penting dalam membangun peradaban. Misi spesifik ini akan kita ketahui ketika kita mampu mengenal diri kita dengan sebenar-benarnya, mengetahui potensi yang kita miliki dan juga menyadari peran kita dimuka bumi ini sebagai seorang ibu, seorang istri juga seorang hamba. Dengan hal inilah, semakin menguatkan saya untuk terus mempelajari ilmu dasar untuk mengenal diri, sehingga saya akan dapat mengatur langkah untuk menjalankan misi spesifik dalam hidup saya.

Untuk dapat menjalankan misi spesifik dalam hidup saya, diperlukan adanya indicator untuk mengukur target dan kemampuan saya dalam menjalankannya. Dan indicator-indikator tersebut sudah saya tuangkan dalam NHW #2. Selama kurang lebih 2 minggu saya mencoba untuk secara konsisten memenuhi checklist indicator yang telah saya buat. Beberapa diantaranya telah dan akan terus saya laksanakan dengan kendala yang cukup sedikit, namun beberapa lainnya masih harus saya upayakan dengan sungguh-sungguh dan nampaknya checklist indicator ini akan selalu ada perubahan disesuaikan dengan target-target yang ingin saya capai. Alhamdulillah dengan adanya checklist indicator ini semakin memicu saya untuk senantiasa memantaskan diri sebagai seorang ibu professional.

Mendalami kembali materi dan NHW #3, semakin terbayang bahwa Allah SWT mentakdirkan saya sebagai seorang wanita dari keluarga yang seperti ini, memberi saya pendamping hidup yang seperti ini, mengaruniakan saya anak yang seperti ini dan menempatkan saya dalam lingkungan yang seperti ini, bukan sebuah kebetulan, namun ada makna dalam dari takdir yang saya dapatkan. Memiliki latar belakang keluarga yang kurang harmonis, menjadikan saya belajar bahwa saya harus berupaya untuk memiliki keluarga yang harmonis. Memiliki suami yang begitu pengertian, menguatkan saya untuk terus belajar senantiasa memperbaiki kualitas diri. Memiliki anak yang luar biasa, menyadarkan saya arti penting dari sebuah tanggung jawab. Tinggal di lingkungan yang baik, memahamkan saya betapa pentingnya hubungan social antar manusia. Saya sangat bersyukur dan senang dengan keadaan saya saat ini, dengan ilmu-ilmu yang telah saya dapatkan saat ini, khususnya ilmu tentang bagaimana menjadi ibu professional, saya berusaha untuk mengamalkannya untuk diri saya sendiri serta untuk mendidik anak saya sendiri dan suatu ketika saya menyampaikan ilmu yang telah saya dapatkan kepada orang lain, ada perasaan senang yang berbeda, ada rasa haru juga ketika saya menyadari bahwa ilmu yang saya dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain juga. Saya yang selama setahun terakhir ini turut serta dalam kegiatan pendidikan anak usia dini dalam lingkungan formal, mulai merasakan suatu perasaan berbinar ketika saya mengajar anak saya, ketika saya mengajar anak-anak lain serta ketika saya berbincang dengan beberapa ibu muda lainnya mengenai pendidikan dan pengasuhan anak. Maka saya mulai menyadari tentang peran hidup saya dalam kehidupan ini adalah sebagai seorang guru. Seorang guru yang bukan dalam wilayah formal saja, namun guru yang dengan semangatnya memberikan pendidikan dan pengajaran bagi anaknya, bagi keluarganya dan bagi lingkungannya. Guru yang senantiasa terus belajar memperkaya ilmu, meningkatkan kualitas diri dan mengajar (mengamalkan) ilmu yang di peroleh. Dan saya akan mengkhususkan diri untuk menjadi guru dalam pendidikan anak usia dini, dimana saya merasa hal ini amatlah penting. Anak usia dini yang mana disebut pula masa keemasan merupakan dasar pendidikan untuk bekalnya dimasa yang akan datang. Secara sederhana saya merangkumkan bagaimana peran saya sbb :


  • Misi Hidup : Memberikan pendidikan & pengajaran bagi anak usia dini (khususnya bagi anak saya sendiri, umumnya bagi anak didik saya), serta berbagi ilmu seputar parenting, pendidikan anak usia dini bagi para orang tua yang memiliki anak usia dini
  • Bidang : Pendidikan anak usia dini
  • Peran : Guru

Setelah saya merangkumkan 3 hal diatas, maka perlu kiranya keberhasilan misi ini ditunjang dengan berbagai ilmu lain, yaitu :
1.       Bunda sayang : Melalui keikutsertaan dalam komunitas ibu professional, maka perlu kiranya saya menguasai ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak yang telah dirangkum dalam bentuk materi pembelajaran secara bertahap dalam komunitas ini
2.       Ilmu psikologi anak, ilmu parenting dari berbagai sumber lain
3.       Ilmu pengelolaan kelas serta manajemen pendidikan anak usia dini
4.       Bunda cekatan : melalui tahapan pembelajaran dalam komunitas ibu professional ini pula, saya harus bisa menguasai ilmu seputar pengelolaan diri dan manajemen rumah tangga
5.       Bunda produktif dan bunda shaleha : Dalam pengembangan diri, saya pun harus mampu menggali ilmu seputar minat dan bakat saya yang lain agar, kualitas dan kemampuan diri saya semakin berkembang dan bisa lebih bermanfaat bagi lingkungan saya

Untuk menunjang keberhasilan misi hidup saya, maka diperlukan pula milestone untuk memandu setiap perjalanan saya. Saya yang saat ini berusia 27 tahun, dan saya memiliki target ketika usia sudah berkepala 3, maka saya harus sudah menguasai ilmu-ilmu yang saya tuliskan diatas hingga saya mampu melaksanakannya dengan mantap, benar dan sungguh-sungguh.

Semoga apa yang saya tulis tidak sekedar tulisan, namun semoga Allah SWT memampukan saya untuk bisa merealisasikannya dalam hidup saya.

Minggu, 12 Februari 2017

Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah



Mendapat materi ketiga dalam kelas matrikulasi kali ini benar-benar membuat saya “baper” apalagi disuguhi dengan NHW (Niece Homework) yang bikin deg-deg seerr. Ya, materi ketiga nya adalah tentang bagaimana membangun peradaban dari dalam rumah. Dengan tugas menjadikan keluarga tak hanya sebagai penerus keturunan, tapi menemukan peran spesifik dari masing-masing anggota keluarga untuk menjalani kehidupannya di muka bumi ini. Untuk mengetahui peran spesifik ini serta untuk membangun peradaban dari dalam rumah, kita harus terlebih dahulu memulainya dari dalam diri, dengan menemukan potensi unik diri kita sendiri, menjalin kekompakan dengan suami, mendukung & mengembangkan potensi anak dan memanfaatkan lingkungan pendukung.

Padamu ku jatuh cinta

Dalam membangun peradaban keluarga, maka peran seorang suami menjadi suatu hal yang penting. Seorang suami lah yang menjadi imam, menjadi nakhoda dalam perjalanan rumah tangga. Maka, memilih imam yang baik ketika sebelum menikah adalah keharusan dan membina kekompakan untuk terus memperbaiki diri bersama demi terwujudnya keluarga bahagia ketika setelah menikah juga keharusan.

Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tak selamanya berjalan dengan tenang, gelombang sering kali menghampiri. Dan cara untuk meredakan gelombang itu adalah dengan jatuh cinta kembali padanya agar genggaman tangan tak terlepas, agar senantiasa diingatkan dengan arah tujuan pernikahan, agar kekompakan dalam proses pengasuhan anak senantiasa terjaga. Lantas, bagaimana cara untuk jatuh cinta lagi? Yaitu, dengan mengingat-ingat kembali saat kami berdua bertemu, mengingat kembali kenapa saya menerima lamarannya, kenapa saya menganggap ia layak sebagai imam dalam hidup saya dan ayah bagi anak-anak saya. Teringat saat saya bertemu dengannya di kali pertama, tak pernah sedikitpun terbayang oleh saya bahwa dialah yang akan menjadi suami saya. Allah menuntun saya dalam istkharah-istikharah yang saya lakukan untuk memutuskan sebuah keputusan besar dalam hidup saya.

Pada 10 Februari 2013, sebuah akad terjalin, sebuah janji terucap, dia yang saya pilih telah sah menjadi imam dalam hidup saya. Dan, pada hari Jum’at lalu, tepat 4 tahun sudah kami mengarungi bahtera rumah tangga, merajut tali kasih, membangun keluarga bahagia.

Jum’at pagi itu, saya membuat surat cinta sebagai hadiah pernikahan kami. Untaian terima kasih kepadanya yang sudah lelah berjuang mencari nafkah untuk keluarga, berjuang menjadi sosok ayah terbaik bagi anaknya dan berjuang membimbing istrinya agar seantiasa dalam jalanNya. Untaian kata cinta pun saya ungkapkan dalam sebuah surat panjang yang saya selipkan di dalam tas kerjanya, berharap ia membacanya setiba di kantor. Benar saja, ia membaca surat saya setibanya di kantor. Langsung setelah ia membaca surat saya, ia mengirimi saya pesan menyatakan rasa sayangnya kepada saya. Terharu menerima pengakuannya, tak terasa mata saya pun mulai berkaca-kaca. Sore tiba, suami saya pun tiba di rumah. Dengan masih merasa kelelahan, ia menghampiri saya, mengatakan kebahagiaannya setelah ia membaca surat saya dan ia juga mengatakan bahwa ia menangis bahagia ketika membaca surat saya. Bahkan ia mengatakan, ia menunjukkan surat saya kepada teman kantornya dan memberitahu temannya, betapa bahagia ia menerima surat saya. Bagaimana dengan saya? Ya, sambil tersenyum menahan tangis bahagia karena malu, mata saya pun berkaca-kaca. Saya pun bahagia. Berkali-kali saya bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan suami yang begitu mengerti saya, begitu menyayangi saya, begitu memahami apa yang saya inginkan dalam menentukan arah dan tujuan rumah tangga kami dan ia yang mampu menjadi sosok ayah yang sebenarnya bagi anak saya.

Lalu sekarang, setelah saya memiliki suami yang begitu memahami saya, tinggallah kami menyusun rencana, menentukan langkah masa depan untuk mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya dan untuk membangun peradaban dari dalam rumah.

Anakku, Mutiaraku

 Selama 4 tahun pernikahan kami, hal yang sangat kami syukuri adalah amanah besar yg Allah karuniakan kepada kami, yaitu seorang putra yang kini berusia 3 tahun. Rafif Arkan Alfatih, kami memberikannya nama. Memiliki arti orang yg berakhlaq baik lagi kuat seperti Muhammad Alfatih, pahlawan pembela agama Allah. Di usianya yg masih balita, kakak, panggilan saya terhadap anak saya, sudah menjadi guru sekaligus alarm bagi saya. Bersamanyalah saya belajar banyak hal dan saya sering kali diingatkan tentang berbagai hal. Masa balitanya ini disebut juga masa golden age, masa keemasan dimana otaknya seperti sebuah spons, ia akan menyerap banyak hal dari apa yang ia lihat dan ia dengar dengan tidak menyaringnya dahulu. Dari hal inilah, saya beserta suami senantiasa berusaha untuk menjaga lisan kami ketika berucap dan menjaga tingkah laku kami. Kakak adalah anak yang periang, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, jika ia sudah mengetahui suatu hal maka ia akan tetap kuat pendiriannya dari apa yang ia tahu (keukeuh). Kakak juga merupakan anak yang penuh inisiatif, terkadang ia mampu melakukan apa yang bahkan tidak saya pikirkan dan itu menakjubkan. Dan ia juga adalah sang peniru ulung. Apa yang pernah kita katakana atau lakukan, ia mampu menirunya dengan sangat baik. Maka, hal ini lah yang mampu menjadi alarm bagi kami orang tuanya, bahwa kami harus senantiasa menjadi teladan baginya, karena ia bisa meneladani apa yang kami lakukan dengan sangat baik. Seiring dengan pertambahan usianya kelak, semoga Allah memudahkan kami sebagai orang tuanya dalam menuntunnya menemukan dan mengasah potensi besar yang ia miliki serta menjaga fitrah baik yang Allah beri. Seperti sebuah mutiara di dasar lautan, kelak ia akan bersinar setelah ia tumbuh dan terpelihara di dalam karang.

Syukurku

Memiliki suami yang penuh pengertian, memiliki seorang anak yang luar biasa adalah hal yang sangat saya syukuri. Beberapa luka masa lalu yang saya dapatkan seolah telah pulih terobati dengan hadirnya suami dalam kehidupan saya. Inilah kasih sayang yang Allah beri untuk saya. Masa kecil dan masa remaja merupakan masa sulit bagi saya, dimana para remaja lain tengah asyik menikmati dunianya, saya pun menikmati dunia remaja saya walau terasa perih. Dan pada saat saya kehilangan orang-orang yang saya cintai, ibu, uwa, dan guru yang paling saya sayangi, yang semuanya telah Allah panggil, maka Allah dengan segera mengganti kesemuanya itu dengan hadirnya suami tercinta, juga dengan keluarga baru (mertua) yang begitu menyayangi saya seperti anaknya sendiri. Dari sini lah saya bisa belajar menghargai apa yang saya miliki saat ini dan dari sini pula saya belajar untuk mengenal diri saya, perlahan-lahan belajar menemukan potensi yang saya miliki untuk membangun keluarga impian saya, membangun keluarga barokah, membangun peradaban mulia dalam keluarga, karena saya pernah mengalami memiliki keluarga yang tidak sempurna, maka sebisa mungkin saya ingin jadi lebih baik dari apa yang sudah saya lewati di masa lalu.  

Rumahku, Surgaku

Membangun peradaban dalam keluarga sama halnya dengan membangun surga dalam keluarga. Hal ini tak lepas dari dukungan dari factor lingkungan. Lagi-lagi saya sangat bersyukur Allah menakdirkan saya dan keluarga tinggal di sebuah kota kecil, cukup jauh dari ibu kota yang katanya kejam. Di kota kecil inilah kami mampu bertahan, membangun keluarga impian, membangun surga di dalam rumah. Saya pun bersyukur, kami tinggal tidak jauh dari masjid sebagai tempat bagi kami belajar, mendekatkan diri kepada Allah. Saya pun kembali bersyukur, kami berada di tengah-tengah masyarakat yang masih peduli satu sama lain, yang masih menggenggam rasa kebersamaan dan gotong royong dimana terdengar kabar bahwa di kota besar, masyarakatnya dikenal lebih individualis dan cenderung egois. Semoga dengan lingkungan yang sangat mendukung ini, kami mampu mewujudkan apa yang kami inginkan, membangun surga dari dalam rumah, membangun peradaban dalam keluarga.




Jumat, 03 Februari 2017

NHW #2 Pengingat Diri



Menjadi ibu professional kebanggaan keluarga adalah sebuah impian bagi setiap ibu. Mampu mengurus keluarga dengan baik, mendidik anak-anak dengan baik, mengelola manajemen keluarga dengan baik serta mampu memegang peranan dalam masyarakat merupakan indicator keberhasilan seorang ibu professional. Dalam materi pekan kedua ini pemikiran saya benar-benar terbuka. Bahwa untuk menjadi seorang ibu professional harus menjalani beberapa tahapan secara berkesinambungan, tak bisa dipisahkan ataupun tak bisa dilompati antara satu tahapan dengan tahapan berikutnya karena jika ada yang terlewati maka akan terjadi ketimpangan satu sama lain.

Untuk menjalani tahapan-tahapan tersebut, peranan suami, anak-anak serta lingkungan pun memiliki arti yang penting. Dukungan dari suami adalah salah satu yang sangat penting bagi saya, mengingat anak saya baru satu dan baru berumur 3 tahun dan belum bisa diajak tukar pikiran. 

Teringat saat saya mengatakan bahwa saya ingin bergabung dengan komunitas ibu professional ini, suami saya  memberikan dukungan dan semangat untuk saya agar bisa mengembangkan diri, menambah wawasan yang tentunya untuk diaplikasikan dalam keluarga. Dan ketika saya menerima materi kedua dari matrikulasi ini, saya pun membagi apa yang saya dapatkan kepada suami saya untuk didiskusikan bersama. Kemudian tibalah saat saya membagi Nice Home Work #2. Dalam obrolan kami,

“Yah, ibu dapet tugas bikin checklist indicator profesionalisme perempuan, nih yah” kata saya sambil memberikan NHW #2

“Yah, ibu mesti gimana ya biar ayah bahagia?”

Sambil tersenyum, ia menjawab, “ayah mah udah bahagia kok sama ibu”

“iiiih ayah mah, seriuuus” kata saya.

“iya ayah serius, da apa lagi atuh?” masih sambil senyum.

Dengernya saya berkaca-kaca hampir nangis terharu. Ga tau kenapa saya tiba-tiba begitu, rasanya gimanaa gitu, ga bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ya, mungkin saya nya juga yang jadi baper, hehe..
Sambil menenangkan perasaan, saya coba senyum agak ketawa ketiwi, “ibu juga bahagia sama ayah sekarang. Tapi yah, ayah mau ibu gimana gitu? Maksudnya ibu harus gimana biar ibu bisa lebih baik lagi, apa yang kurang gitu”

Sambil senyum-senyum, “iya atuh, ibu teh harus lebih rajin beberes”

Waw… hahaha… sebenernya ini jawaban yang sudah saya pikirkan. Malu sendiri akhirnya, hihihi…

Dari awal pernikahan kami, sudah terjalin komitmen dan kesepakatan tidak tertulis bahwa kami akan saling menerima apapun kelebihan dan kekurangan yang kami miliki. Dan selama ini suami saya tidak pernah sekalipun complain.

Dalam keseharian saya, saya suka sekali memasak, suka membuat kue dan suka sekali menemani anak bermain. Satu hal yang memang kurang dari saya adalah, saya kurang begitu detil dalam hal merapikan rumah sementara suami saya sebenarnya adalah orang yang begitu detil dalam hal kerapihan.

Oleh karena itu, sebagai upaya untuk menjadi ibu professional adalah dengan terus memperbaiki diri dan menerima segala masukan yang diberikan oleh orang-orang terdekat, terutama suami. Dan dikarenakan kalimat yang dikeluarkan suami hanyalah “rajin beberes” maka saya akan menguraikan kata “rajin beberes” ini kedalam beberapa hal untuk membuat checklist indicator perempuan professional, yaitu :

  1. Sebagai Individu
No.
Rajin Beberes untuk :
Rincian
Target & Upaya
1.
Beres untuk hubungan diri dengan Allah SWT
-       Bersegera dalam hal ibadah wajib
-       Berusaha menjalankan ibadah sunnah
-       Berusaha menuntaskan hafalan AlQuran
-       Melaksanakan ibadah wajib tepat waktu setiap hari
-       Mampu melaksanakan shalat tahajud maupun dhuha minimal 3 kali seminggu
-       Menuntaskan program one day one ayat
2.
Beres untuk hubungan antar manusia
Menjalin silaturahim dan komunikasi yang baik dengan keluarga, kerabat, tetangga, dan teman.
Melakukan kunjungan seminggu sekali untuk mempererat silaturahim

  1. Sebagai Istri
No.
Rajin Beberes untuk :
Rincian
Target & Upaya
1.
Kerapihan rumah
Menampilkan kondisi rumah yang rapi, bersih dan tertata
Berusaha untuk selalu membersihkan dan merapikan rumah setiap hari
2.
Beres untuk urusan dapur
Mampu menyajikan hidangan yang sehat, enak dan disukai
Mencari berbagai resep pilihan dari internet dan langsung mempraktekan di rumah
3.
Beres dalam hal komunikasi
Membuka diskusi harian, saling mendengar, saling bicara mengenai kejadian yang dialami, saling memberi masukan dan saling memahami.
Melakukan obrolan ringan setiap hari sebelum tidur minimal 5 menit

  1. Sebagai Ibu
No.
Rajin Beberes untuk :
Rincian
Target & Upaya
1.
Beres untuk memahami anak
-       Menggali ilmu parenting
-       Mempererat bonding antar ibu dan anak
-       Bergabung dengan komunitas parenting
-       Membaca berbagai buku parenting
-       Browsing mengenai parenting
-       Selalu menemani anak ketika bermain
-       Menyusun kegiatan bermain harian anak yang terjadwal setiap hari
2.
Beres dalam hal tumbuh kembang anak
Memastikan bahwa anak sudah tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan usianya
-       Selalu mengukur tinggi dan berat badan anak sebulan sekali
-       Memberikan asupan makanan dengan gizi seimbang setiap hari
-       Melakukan tes pra skrining tumbuh kembang sesuai dengan tahapan usianya

Inilah tugas yang telah saya selesaikan untuk NHW #2 yang sebenarnya bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban tapi tugas ini adalah untuk diri saya sendiri, sebagai pengingat, sebagai sarana bagi saya memperbaiki kualitas diri. Saya sangat menyadari bahwa poin-poin indicator yang saya buat akan selalu berubah seiring dengan perubahan kondisi keluarga dan kebutuhan yang akan berbeda setiap waktu. Namun, poin-poin yang saya buat ini akan saya jadikan acuan untuk bisa direalisasikan dan dikembangkan kedepannya.

Teringat akan sebuah pepatah, “tulis apa yang akan kamu lakukan, dan lakukan apa yang telah kamu tulis”. Semoga Allah memampukan saya untuk bisa melakukan apa yang sudah saya tulis ini.

Sukabumi, 3 Februari 2017

Dalam dinginnya Sukabumi